RUMAH ADAT

Menyebut Pulau Seram,  pulau terbesar di Maluku, pasti juga akan menyebut suku Alifuru. Ya, suku ini merupakan suku asli Pulau Seram. Alifuru sendiri mempunyai arti manusia pertama. Alif berarti pertama dan uru  berarti manusia. Tapi seiring masuknya agama Islam di pulau ini, nama Alifuru bergeser di ganti menjadi Nusa Indah. Meskipun begitu, di mata luar nama Alifuru jauh lebih di kenal ketimbang Nusa Indah.

Rumah adat suku Alifuru

Hingga hari ini suku ini masih ada, hanya saja kemudian terpecah menjadi 2 berdasarkan tempat tinggal mereka. Alifuru pesisir dan Alifuru gunung. Alifuru pesisir adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai dan Alifuru gunung adalah julukan bagi mereka yang tinggal di gunung. Meskipun mereka masih satu keturunan suku Alifuru, tapi tempat mereka tinggal mempengaruhi cara hidup mereka. Pada umumnya suku Alifuru pesisir sudah hidup sama seperti di kota. Tapi untuk suku Alifuru gunung berbeda.
Suku Alifuru gunung bisa dijumpai di sepanjang jalur pendakian menuju Gunung Binaiya. Suku ini masih hidup dengan adat dan belum memeluk agama. Sistem hidup mereka juga masih berkelompok dan tidak menetap. Suku ini tinggal bersama-sama, meski beda keturunan di satu rumah adat. Di rumah yang berukuran kurang lebih 15×8 m2 tersebut mereka bisa tinggal sampai dengan 10 keluarga. Uniknya, meski mereka hidup bersama-sama tapi mereka tak membuat batas ruangan yang signifikan di rumah itu. Mereka hanya memberi tanda semacam garis  tiang di atas untuk membedakan ini ruangan si A, ini ruangan si B, dan seterusnya.
Rumah adat mereka juga unik karena hampir semua material bangunan di ambil dari pohon sagu dan tak tampak ada satupun paku yang mereka pakai. Mereka mengikat setiap tiang hanya dengan tali yang terbuat dari rotan yang di serut. Atapnya pun menggunakan Nypa, daun sagu. Pondasi bangunannya pun bukan dari tatanan batu dan semen, melainkan bambu-bambu yang disusun rapi sehingga mampu menopang tubuh rumah panggung itu. Mengingat sagu adalah hal yang tak bisa di pisahkan dari mereka, hampir di setiap rumah adat Suku Alifuru terdapat tempat untuk mengolah sagu. Sagu itu akan di olah menjadi Papeda. Bentuk dari papeda sendiri hampir seperti tepung kanji yang di cairkan dengan air hangat. Rasanya tawar. Sebenarnya dulu suku ini sempat menanam padi. Tapi tak lama setelah mereka menanam padi banyak orang yang meninggal. Bermula dari itu lah, mereka tak lagi mau menanam padi karena mereka percaya bahwa padi akan membawa sial bagi kehidupan mereka.

Diberdayakan oleh Blogger.